Cinta Tak Ber Anggap
Penulis. Dian D'Novellia
Meratap
dinding nan kosong
Bercat putih
namun nampak ber-bercak
Seperti
untaian kata melalui angin namun tak
sampai menyua hati nya
Cicak di
dinding memutus ekor
Meninggalkan
sang kekasih diterkam mangsa
Pengkhianatan
tampak jelas
Kini yang
selama berdua bisa pergi bagai ekor yang terputus
Kembali
merenung sunyi
Duduk di hadapan
pangkuan berkhayal,
Memandang
angkasa apakah sama seperti memandangmu,
Mengapa
terasa jauh meski kini kita berhadapan,
Memasang sepatu
apakah masih sama seperti mengikatmu
Mengapa
terlepas dari tali ku,
Coba
sejenak, izinkan tuk berfikir
Apakah ada
yang salah dengan cinta ini
Menjadi
apakah anggapan rindu ini
Bila badai
saja enggan datang
Ter anggap
apa cinta ini
Jika
matahari saja enggan bersinar
Hai labuan
hati,
Sebentar, ku
bisikan.
tetap ku
ukir asa meski kau tak inginkan
Tetap ku
susun bait rindu meski kau tak ingat tuk datang merindu,
tetap ku
pertahankan rasa ini, rasa cinta, cinta kasih, yang tak mungkin bisa kau anggap
sebelum kau merasakan kehilangan sesorang yang tulus memberi mu warna.
Cinta,
harapan, rindu dan kasih sayang hanya batas kiasan, yang kini bagai cinta tak
beranggap
Tunggu, blm
selesai.
Biar hati ku
kelu bagai tertutup kapas rindu,
Biar ku
memejamkan mata sejenak lalu bangun dari mimpi, bahwa kau yg ku banggakan tapi
ternyta tak bangga rasa kau tuk anggap.
Sebentar, aku bisikan, aku Bukan berarti
lelah,
Tapi, ku ingin
melihat
Apakah senja
masih ingin mencari pelangi yang hilang
Ataukah diam
membiarkan senja tanpa sang pelangi
Entahlah
sampai kapan
Mungkin
sampai kau datang mencari.
Muncang 20 November 2019
Noted: Cerita isi puisi ini dibuat karena permintaan seseorang yang merasa cinta yang dilalui kini bagai tak di anggap dan tak di hargai. hastag hastag Taufiq waladiansyah:D
Noted: Cerita isi puisi ini dibuat karena permintaan seseorang yang merasa cinta yang dilalui kini bagai tak di anggap dan tak di hargai. hastag hastag Taufiq waladiansyah:D
***
KEMARI-LAH
KEMARI-LAH
Penulis. Dian D'novellia
Hei manis,
Kemarilah datang padaku,
Rayu lah aku dengan senyum-mu
Temani malam ku, disini, yuk- duduk dipankuan ku
Akan ku ajarkan kamu apa itu cinta.
Aku tak pandai bersyair
Namun aku pandai mengelabuhi
Ya,, mengelabuhi hati mu.. (cie)
Jangkar yang tegak kini sudah berlabuh
Jangan berpaling hei manis
Kemari..
Kan ku tuturkan kata manja di telinga mu
Agar kau lupa sejenak bebanmu
Aku tau kau sedang memikirkan apa
Rembulan malam kini sedang asyik dengan sang bintang
Aku tau kau pun sang bintang, namun tak sedekat
bintang yang lain
Kemari
Duduk di samping ku
Akan ku ajarkan kau menari
Menari atas luka mu sendiri
Kemari
Duduk disamping ku
Akan ku ajarkan kau cara menangis yang benar
Dengan suaramu sendiri
Kemari
duduk di sampingku
Akan ku ajarkan padamu
Apa itu rasa sakit kecewa yang kau rasakan
Kemari
Duduk lah sekali lagi
Akan ku ajarkan kau melukis kisahmu sendiri
Kemari-lah jangan malu,
Aku tahu kau pun pandai mengelabuhi
Kini kita bersama
Membuat kisah baru
Bertemakan cinta
Cinta palsu yang sementara ku ajarkan
Agar kau tidak lagi merasakan cinta kelu
Disini, di pangkuan ku
Hei manis ku.
Sang tinta malam.
Muncang, 30 September 2019
BER-ANDAI
KATA
***
Memandang langit masih
sama,
Sama seperti caraku
memandang mu.
Yang berbeda adalah
saat pandanganku teralihkan oleh sinar terik matahari,
Tak sanggup ku
memandang karna silaunya,
Meski ku paksa tuk
memandang.
Ku terbangun dari
lamunan sunyi,
Ku tersadar bahwa kini
t’lah berbeda,
Aku dan kamu..
Yaa.. dulu yang bersama
kini tinggal kenangan yang pernah bersama,
Biarkan rasa ini terasa
pedih,
Cinta yang ku tahu kini
hanya sebuah kata,
Kata cinta yang kelu
Mungkin sudah tak ingin
ku rasakan lagi
Setelah namamu.
Ku berandai melukis
harapan namun
tak bergitu berharap kan usai terlukis,
tak bergitu berharap kan usai terlukis,
Ku berandai merakit
namun tak berharap kan terakit.
Cinta, harapan, rindu,
menanti & menunggu adalah ego ..
Yang mungkin sudah ku
tau alasanya namun tetap ku berandai.
Entah sampai kapan…
Biarkan ku berandai
Asa ku sang pelangi
Walau sejenak memberi
warna, namun tetap ku ingat barisannya
Muncang, 30 September 2019
***
BERKABUT DI AWAN SENJA
Penulis. Dian D'Novellia
Kata pelangi bila ingin datang dia akan memberikan kejutan
manis dengan bunga. Namun nyatanya seperti lilin panas yang mencair. Pelangi
memang indah namun sama seperti dongengnya, hanya sebentar dia melintas, hanya
sebentar memberi senyum, hanya sebentar memberi warna.
Sekian lama menanti, senja masih duduk menunggu sang rindu.
Bila rindu tak terpatahkan dengan senyumnya,
Bila rindu tak dapat terbalaskan dengan nama nya
Bila rindu mungkin tak menggoyahkan asanya
Mungkin saja kabut di awan senja sudah datang.
***
Cintanya pada sang pelangi hanya kiasan nama
Hanya sebuah kenangan rindu yang pernah dilalui bersama,
ingatkah saat senja duduk menunggu pelanggi tiba, senyum
merekah tak terukir terbalas dengan indah saat pelanggi duduk bersama, betapa
indah masa itu.
Hari demi hari
Menanti demi nanti
Merindu demi sang rindu
Namun tak kunjung datang kembali pada diriku yang malang, ya
aku, aku senja, senja yang merindukan pelangi kembali, kembali dalam pelukan ku
dengan hangat,
dalam dekapan rindu ku
ingin membisikan dalam dalam ke hatinya
menetaplah lebih lama agar aku bisa memelukmu lebih lama,
setelah itu, pergilah sesukamu, aku akan tetap disini menjadi senja, senja yang
merindukan dirimu kembali wahai pelangi.
Marunda, 24 September 2019
***
MENEKUNI SANG RINDU
Penulis. Dian D'Novellia
Gemerlap cahaya bintang yang tanpa sang rembulan memang tetap
indah
Bagaikan langit hitam yang bertanda akan hujan karna
perlahan sang bintang menghilang mengikuti sang rembulan malam.
Angin malam,
Ku mendengar lantunan nya berbisik di telingaku
Aku mendengar nya mengatakan kepadaku "hei..sepertinya
kau sedang menunggu seseorang"
Dia meperjelas ucapan nya melalui daun yg terbang karna
angin malam
Bagaimana mungkin kau lupa kau menunggunya datang tuk
mengobati rindumu sedangkan kau tahu bahwa angin malam saja pasti akan berubah
menjadi angin pagi.
Jika aku memutuskan tuk menanti mengapa aku harus mendengarkan
orng lain mengahlangi penantian ku..
Hai angin malam ku mohon padamu
Ku tau kau dapat dirasakan oleh setiap insan yg menghirupnya
Sampaikanlah rinduku kepadanya dengan angin mu
Karna ku tau angin mu dapat menembus hati nya dengan
kesejukan
Mungkin saja dia bisa mengingatku, begitulah aku bernegosiasi
dengan nya
Jika rinduku ini ku tekuni tak dapat menggoyahkan asa nya,
Maka anggaplah aku sama seperti pungguk merindukan sang
rembulan
Karna merindu dan menekuni sang Rindu adalah ingin ku
Biarkan seperti ini.
Menekuni sang rinduku. Disini.. Didalam penantian..
Biarkan aku menikmatinya.
Jakarta 9 july 2019
***
BAHTARA MEHALLIKAN RINDU
Cpt. Dian D'Novellia
Disaat ku termenung memandang langit
Ku mengingat suatu nama
Hati berkata : Hai rasa mengapa kau mendadak bercerita
Hai hati.. Mengapa kau mendadak berdebar..
Anganku berkhayal bagaikan berada di puing - puing angkasa
Sebuah nama mengenangkan suatu cerita
Kisah rindu ku menanti suatu nama dimana aku pernah
merasakan hati ku berasa
Bercerita tentang dia yg ku tunggu, dia yg ku rindu.
Bahtara mehallikan rinduku.
Rindu.. Apa yg kau tau tentang rindu..
Rindu adalah sebuah kata pengganti yg memaknai bahwa ada
rasa sangat ingin berada di dekatnya
Tanpa dia tau kau merindukan nya,
Aku pun kini sama seperti kata rindu. Aku membutuhkan nya
ada didekatku.
Kupetik mawar merah ku pandangi durinya, aku mengerti bahwa
mawar yg cantik pun butuh pelindung si duri untuk melindunginya dari arogan
manusia yg ingin memetiknya.
Aku beralih mengambil kertas putih berpegang tinta, aku akan
coba melampiaskan rinduku dengan kertas putih ini.
Ku gulungkan kertasku yg bertuliskan nama nya di lubuk hatiku
Agar rindu ku ini tak ada yg tahu. Ya hanya aku
Ku coba selalu datang dimana tempat itu kita menuliskan
kisah cinta,
Dimana air mata ini turun di tempat tersebut tanpa kau tau.
Aku selalu ada disana, ya disana menatap kursi yg beralas remaja berpasangan
memadu kasih tanpa malu bagai dunia milik berdua. Ku tersenyum lembut dengan 2
tanganku perpegang jagung bakar hangat.
Ku nikmati seraya mengkhayalkan
mu rinduku..
Ku berdiri menatap angkasa, ku melihat sebuah asa
Rasanya aku ingin selalu memandangnya tanpa pelindung untuk
mata kecil ku ini
Ya, bahtara mehallikan rinduku.. Aku menantinya. Aku
merasakan rindu ini
Aku merindukan nya dan aku menikmatinya
Entah sampai kapan.
Mungkin sampai kertas kecil ku ini mengirimkan ke hatinya..
Aku menunggu. Sebuah
kata rindu.. Sebuah nama... Bahtara mehallikan rinduku.
Aku sangat merindukan nya.
Jakarta, 20 juni 2019





